9. Aku Bukan Siapa-siapa
9
Aku Bukan Siapa-siapa
Tepat di depan SMAN 3.
Aku
berkata pada Feli. "Kamu tidak beda jauh dariku, Fel."
"Beda jauhlah, mamaku dokter." Feli tertawa
pelan.
"Ahk, kamu jahat."
"Bercanda, Sen."
Aku diam sambil senyum-senyum. Di dalam spion, mataku
bertemu dengan mata Feli.
"Ngapain senyum-senyum?" tanya Feli.
"Kamu ternyata juga suka ngobrol sama benda ya,
Fel. Sampai-sampai gelang ini punya nama."
"Kamu pikir hanya kamu yang kesepian? Setelah kamu
ke Samarinda, aku tertular, Sen."
Aku mengulum senyumku. "Seharusnya aku tak ke
sana."
"Kenapa begitu? Kan penting, Sen."
"Gara-gara aku ke sana, kamu tertular virus
gilaku."
"Hahaha." Feli tertawa kencang.
Kami pun membisu satu sama lain. Ketika hampir tiba di
rumahnya Feli, dari belakang suaranya terdengar jelas.
"Aku boleh peluk kamu nggak, Sen?"
"Boleh."
Feli langsung melingkarkan kedua tangannya di perutku.
Erat sekali. Bahkan aku hampir tidak bisa bernapas. Dan tak ada kata yang dapat
mengungkapkan perasaan kami berdua. Kami memilih diam, tidak ingin mengganggu
kenyamanan satu sama lain.
Hari itu juga, pertama kalinya aku dipeluk perempuan.
Disentuh dengan seizinku. Yang paling istimewa, bahwa aku tidak menduga kalau
yang memintanya justru Feli.
Beberapa puluh meter kemudian, aku sampai di depan
rumahnya Feli. Dia turun dari atas motor, lalu mendorongku pelan.
"Langsung pulang saja, Sen."
Aku tersenyum melihat wajah Feli yang memerah seperti
baru saja ditumpahi jus tomat. Aku memperjelas setiap pola ukiran Tuhan yang
tertera di wajahnya.
"Malu ya?" tanyaku merayu.
"Ahk, pulang sana," jawab Feli sambil
kembali mendorongku.
"Oke, sampai jumpa, Fel."
Feli mengangkat tangannya, lalu menangkap tanganku.
Dia tertunduk menatap gelang pemberiannya.
"Aku titip Sendu sama kamu, El."
Entah kenapa perkataan Feli itu semakin membuatku
tidak nyaman. Maka aku berusaha mengeluarkan rasa itu.
"Kamu lolos kan ke UNMUL?" tanyaku.
Aku tahu kalau pertemuan antara aku dan Feli jelas
tidak akan berlangsung lama. Karena itu, Feli ingin menghabiskan waktunya
untukku. Demikian sebaliknya, aku akan berusaha memberikan yang terbaik di sisa
waktu yang masih berpihak pada kami berdua.
"Iya, jadi giliran aku yang ke sana. Tapi aku
nggak tahu kapan berangkat," jawab Feli.
"Pantas saja tanggung jawab El sangat besar.
Rupanya kamu akan pergi."
"Supaya kamu tidak merasakan kegelisahan yang
sama, Sen. Seperti saat kamu pergi."
Feli melepaskan tanganku. "Sudah, sana pulang,
Sen."
Saat itu juga, aku berangkat pulang. Dari spion
kulihat Feli berdiri sambil mengusap air matanya. Aku berbalik, tapi Feli sudah
berlari masuk ke dalam rumahnya.
( ͡° ͜ʖ ͡°)
Setelah
aku tiba di rumah, aku mengamati El. Kini ada dua nama di tubuhku, Sendu dan
El. Sesudah mengamati, aku teringat sesuatu. Aku melupakan tujuan utamaku
menemui Feli. Dengan kata lain, aku keluar dari permainanku sendiri.
Aku terlalu terpana pada setiap apa yang diperbuat
Feli padaku, sampai lupa menanyakan beberapa hal penting.
Suasana kamarku terasa aneh. Seperti ada yang
mengawasiku dari setiap sudut. Aku menoleh beberapa kali ke belakang, hingga
akhirnya aku memutuskan untuk ke teras rumah.
Di teras masih ada ibu. Kalau kuperhatikan lebih
jelas, wajahnya seakan bingung.
"Bu, kenapa?"
Mendengar suaraku, ibu langsung antusias bercerita.
"Sen, anak Pak Johan itu nakal."
Aku tertawa kecil seperti biasanya. "Baru tahu,
Bu?"
"Kemarin, katanya dia mencuri tuak di warung Pak
Hendra."
Ibu menggeleng-geleng, seperti tak percaya dengan
perbuatan anak Pak Johan bernama Firman itu.
"Bukan hanya itu, Sen. Dia katanya adalah ayah
dari anak dalam rahim Feli."
Mataku membelalak menatap ibu. "Jadi Feli betulan
hamil, Bu?"
"Iya, Sen. Dan Feli katanya bohong kalau dia
sudah menggugurkan."
"Dapat informasi dari mana, Bu?"
"Pak Johan yang cerita, barusan dia pergi."
"Ha!? Anjing."
Aku berdiri tapi ibu menahanku. "Sen, Sen. Jangan
ikut campur, katanya mereka siap tanggung jawab."
"Nggak, Bu. Kasihan Feli, bagaimana nasibnya?
Melihat perilaku Firman saja, aku nggak yakin."
Ibu memohon. "Sudahlah, Sen. Bahkan jika kamu
membunuhnya pun sudah percuma."
Kata-kata ibu membuatku terdiam.
Aku mengatur napas dan mengelola emosi sebaik mungkin.
Di dalam perasaanku seperti ada sebuah jarum kecil yang perlahan bergerak maju
mundur. Perih dan sangat menyakitkan.
Tak kusadari, tanganku sepenuhnya bergetar. Entah
karena El atau bukan, sama sekali tidak ada yang menggoyangkannya. Jantungku
juga semakin tak tenang. Maka itu, aku lari masuk ke dalam kamar. Tak peduli
apa yang akan terjadi di dalam sana.
"Apa karena itu Feli datang ke kampung?" Pikiranku
mulai menerka-nerka dan menyusun kembali permainanku.
"Mungkin benar. Tapi kenapa aku ragu setelah
bertemu papanya Feli?"
Susuk dalam dadaku semakin terasa sakitnya. Aku
mengambil sebatang rokok lalu membakarnya. Getaran tangan sungguh terasa setiap
kali aku mencoba menyalakan korek api.
"Setelah aku mengaku kalau aku pacarnya Feli,
seharusnya papanya Feli terus terang. Oh, mungkin dia malu, toh dia seorang
polisi. Sementara Firman? Bajingan."
Aku terus berkata-kata dalam pikiran sampai ibu masuk
ke dalam kamarku. Dia membawa segelas air. "Jangan terlalu dipikirkan,
Sen. Kalau kamu sakit lagi, masalahnya semakin ribet. Itu urusan mereka,
Sen."
Sehabis meneguk air pemberian ibu, aku menoleh
padanya. "Makasih, Bu. Tapi Feli itu temanku, dia baik sebetulnya,
Bu."
"Kalau dia baik, kenapa dia rela melakukan hal
memalukan itu, Sen. Sudah, lupakan Feli."
"Nggak, Bu. Bisa saja Feli dipaksa atau
diperkosa."
"SEN! Jangan begitu!"
"Aku tetap nggak percaya, Bu. Nggak mungkin Feli
mau melakukan itu sama Firman. Aku sungguh tahu kalau Feli sangat menjaga
baik-baik tubuhnya."
"Sen, papa dan mamanya Feli sudah datang menemui
keluarga Pak Johan. Mereka setuju menikahkan Firman dan Feli," ungkap ibu.
"Benar dugaanku." Batinku
berbisik, menyerah.
Aku pun terdiam. Tak ada lagi cela bagiku untuk
mempertahankan perasaanku pada Feli. Aku hanya berharap bisa sekuat mungkin
untuk melupakannya.
Ibu keluar dari dalam kamar. Meninggalkan sesosok
manusia yang sebenarnya ingin sekali ditemani, ingin sekali menangis di sebuah
pelukan, tapi terlalu gengsi bila itu diketahui oleh orang-orang.
"Dasar bocah ingusan! Tai! Anjing! Babi! Kotoran
desa!"
Seumur hidupku. Itulah untuk kali pertamanya aku
memaki-maki seseorang.
Beberapa menit kemudian, saat susuk mulai berhenti
bergerak di dalam dadaku, akhirnya aku bisa berpikir sedikit lebih jernih.
"Bagaimana mungkin seorang yang dari orang tuanya
bergelimang harta, bisa menerima Firman? Apakah mungkin ada sesuatu di belakang
keluarga Pak Johan?"
"Sungguh, aku tak percaya dengan apa yang
terjadi. Bagaimana dengan janji dan perasaan ini, Fel? Masa depanmu?"
Lambat-lambat, aku semakin tak kuat menahan sesuatu
yang ingin meloncat keluar dari dalam tenggorokanku. Tapi, aku tetap
menahannya.
Kucoba lagi untuk memikirkan jalan keluar. Barangkali
masih ada jalan yang bisa kulewati untuk mempertahankan perasaanku pada Feli.
Akan tetapi, jalanku buntu.
Penuh dengan arah yang menjebakku dalam pertanyaan.
Aku pula tidak bisa memaksa siapa pun, apalagi
menyalahkan tanpa keterangan pasti. Siapa yang bisa kusalahkan? Aku sama sekali
tidak punya hak. Tapi bagaimana dengan perasaanku?
Tak lama kemudian, kudengar seseorang baru saja tiba
di teras. Saat orang itu berbicara dengan ibu, aku sungguh yakin kalau itu
adalah Pak Johan.
“Haruskah aku marah?”
“Tidak. Pak Johan tahu apa? Dia hanya tetanggaku yang
mungkin sama kecewanya denganku. Anaknya itu? Kalau pun kumarahi atau kupukuli,
percuma saja karena aku hanya berteman baik dengan Feli. Lagian, dia telah
melakukan apa yang dilakukannya. Aku juga tidak pantas memberinya pelajaran,
kecuali orang tuanya sendiri. Aku bukan siapa-siapa.”
“Lalu Feli? Oh, ya Tuhan. Bagaimana bisa Feli
memberikan semua kebahagiaan yang masih panas di tubuhku kalau akhirnya memilih
Firman.”
Aku menggeleng-geleng. "Aku kecewa, Fel.
KECEWA!"
“Bagaimana kalau aku saja yang menikahi Feli? Aku akan
menemui Pak Johan untuk meminta Feli dari Firman?”
Aku memukul sendiri kepalaku. "Kau sudah gila,
Sen. Bagaimana dengan masa depanmu? Kau bisa jamin bahwa kamu akan lebih bisa
menjaga Feli dari Firman?"
Aku memejamkan mata dan menghela napas panjang.
"Sudahlah, aku memang tak pantas."
"Kalau pun bisa kuminta Feli dari Firman, ibu
mana mau menerima Feli kalau sudah tahu apa yang terjadi."
Kepalaku seperti tertindih sebuah batu besar yang
jatuh dari atas langit-langit kamar dan menghantamku. Kupilih keluar dari dalam
kamar.
Saat aku berdiri di ambang pintu kamar, sepasang bola
mataku kembali menangkap Pak Johan. “Bagaimana kalau aku menginterogasinya?”
"Kenapa tidak?"
Aku menyeret kaki dengan lesu menuju Pak Johan.
"Sen," sapanya.
Hanya senyum yang kuberikan, lalu aku duduk di
depannya.
"Kapan kamu balik ke Palopo, Sen?" tanya Pak
Johan.
Kutatap dengan lesu. "Belum tahu."
"Kuliah yang baik-baik ya, Sen. Jangan seperti
Firman, sekolah saja tidak becus. Malu-maluin."
"Firman kenapa lagi?" kutanya.
Ibu dari dapur menoleh, wajahnya datar. Aku menatapnya
lalu tersenyum, kode agar ibu tak khawatir dengan apa yang akan kulakukan.
"Dia menghamili anak polisi, Sen." Pak Johan
terbukti kecewa. Pada wajahnya begitu menyimpan kekecewaan yang dalam.
"Feli?" kutanya lagi.
Pak Johan menoleh penuh. "Kok kamu tahu,
Sen?"
"Feli itu temanku sewaktu SMP sampai
sekarang."
Pak Johan mengangguk.
Aku bertanya lagi, belum puas. "Bagaimana bisa
Firman melakukan itu, Pak?"
Dari dapur, ibu menoleh lagi.
"Katanya mereka khilaf," jawab Pak Johan.
"Alasan klasik," batinku.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, lalu menarik napas
pelan. "Mereka pacaran?"
"Begitulah, Sen. Tapi pacaran mereka tidak
sehat."
Susuk besi dalam dadaku kembali bergerak. Perlahan
menusuk-nusuk dadaku.
"Begitu kata Firman, Pak?"
"Iya, Sen."
Pak Johan lalu menoleh ke arah ibu, siap menanyakan
sesuatu. Tapi aku belum puas.
"Lalu Feli, apa katanya?"
Pak Johan menoleh lagi ke arahku.
"Feli sudah datang di rumahmu, kan?"
lanjutku.
"Sama seperti Firman. Mereka memang secara sadar
melakukannya dan mengakuinya di depan kami," jelas Pak Johan.
Aku pun diam. Hatiku seolah tersenyum jahat tapi juga
sakit. Ternyata mereka memang pacaran.
Saat yang sama, aku merasakan sesuatu yang berbeda di
dalam diriku. Kekecewaan, kehancuran, hilangnya rasa kepercayaan, dan
pengkhianatan yang tak kutahu kapan bisa kulupakan.
"Terus kapan pernikahannya, Pak?"
Itu bukan pertanyaanku. Itu adalah pertanyaan ayah yang
baru saja pulang dari kebun.
"Tergantung dari Ayah. Aku ke sini untuk
menanyakan hari yang bagus."
Ayah tersenyum pada Pak Johan. "Semua hari juga
bagus, Pak Johan."
Pak Johan tertawa kecil. "Kukira, Ayah paling
mengerti kalau soal begini. Aku butuh bantuannya, Ayah."
Ayah kemudian duduk, memikirkan sesuatu.
Pak Johan memang akrab sekali dengan keluargaku.
Hormat pada keluargaku. Kalau ada urusan pekerjaan, Pak Johan tidak pernah
alpa. Dia selalu hadir.
Komentar
Posting Komentar