2. Rutinitas Bodoh yang Menyenangkan

 

2

Rutinitas Bodoh yang Menyenangkan

 

 

Pelabuhan Tanjung Ringgit, Palopo. 11 Juli 2023.

Sudah dua hari aku berada di Palopo. Tepatnya, menurut keterangan Rens, di Jalan Anggrek. Bukan di jalan sih, tapi bagaimana ya menyebutkannya. Oh iya, begini saja: di daerah Anggrek. Dekat dengan jembatan putih, juga dekat dengan rektorat kampus yang sudah menjadi sasaranku.

Karena di kamar kos terasa suntuk, akhirnya Rens mengajakku pergi ke pelabuhan untuk sejenak meniadakan diri dari rasa itu.

Pelabuhan Tanjung Ringgit adalah bagian kedua yang kukenal di Luwu Raya, sesudah Karin. Tempatnya cukup ramai. Banyak orang memancing ikan dan sekadar membuang waktu. Kurasa itu menyenangkan.

Hari itu aku belum banyak memikirkan hal-hal berat. Kalian tentu tahu kalau hidup bukan cuma soal perasaan tapi juga soal masa depan. Namun menurutku, mengurangi pikiran berlebih tentang masa depan adalah salah satu cara untuk menyelamatkan diri dari kebiasaan cemas. Di pelabuhan, kurasa cocok untuk mengelabui pikiran.

Di situ kami menatap matahari tenggelam. Aku tidak akan menyebutkannya dalam bahasa Inggris karena aku takut salah. Lidahku memang kurang lihai ke sana.

Kami sempat didatangi penjual stiker. Aku tidak tahu stiker model apa dan tulisannya apa. Yang jelas, harganya menurutku agak terlalu mahal. Dan karena kami memang benar-benar tidak punya uang saat itu, kami menjawab jujur. Sudah itu mereka pergi.

Di sana aku bercerita pada Rens.

"Aku maunya masuk seni, tapi bapakku juga maunya aku masuk pertambangan. Karena itu aku memilih pertambangan sebagai jalur alternatif untuk membuat bapakku bahagia," kataku.

"Sekalipun tidak ada paksaan dari bapakku, tapi karena aku tidak ingin mengecewakan beliau, maka aku memilih pertambangan saja," tambahku kemudian.

Rens hanya mengangguk-angguk. Dia laki-laki yang tidak berubah sama sekali dari dulu. Rens tetap rajin, baik, dan sopan.

"Kamu ambil jurusan apa?" tanyaku.

"Kehutanan," jawab Rens.

Aku mengangguk. "Lagian aku juga alumni geologi pertambangan, tak salah juga kalau aku masuk teknik pertambangan."

"Benar-benar," kata Rens, tertawa lepas.

Jujur, saat aku katakan begitu, aku sebenarnya malu. Karena aku tidak begitu banyak mengerti tentang dunia pertambangan. Kalau kalian bertanya tambang apa saja yang ada di Indonesia, aku tidak akan bisa menjawab. Serius, aku tidak menghafalnya. Atau kalau kalian bertanya sejak kapan emas mulai ditambang, aku juga tidak tahu.

Yang perlu kukatakan jujur: sewaktu sekolah dulu, aku jarang masuk. Jadi tidak heran kalau aku tidak terlalu pandai dalam dunia pertambangan.

Sesudah itu, kami mengambil beberapa foto lalu kembali ke kos. Setibanya di kos, hujan tiba-tiba turun. Maka aku mengisi waktu kosong dengan berpuisi. Foto matahari tenggelam yang sudah dikirim Rens, kuunggah di cerita Instagram bersama puisi yang membuatku geli sendiri saat membacanya kembali.

 

Desir angin tidak henti menerpaku 

Di bawah bagaskara yang temaram, 

Dan sang redum mulai berkuasa di bagaskara 

Hingga petrikor tercium jelas. 

Saat deraian air hujan turun terdengar di telingaku, 

Renjana mulai datang di kalbu 

Yang menghantui sunyiku yang tenang.

Jalan Anggrek, 11 Juli 2023. 19.40 WITA.

 

Dari semua puisi yang pernah kutulis, puisi itulah yang paling tidak jelas menurutku. Aku mencoba memasukkan bahasa Sanskerta tapi jadinya sangat kaku dan acak-acakan. Tapi itulah aku. Puisi yang kutulis adalah adaptasi dari isi kepala yang kadang berantakan.

 

( ͡° ͜ʖ ͡°)

 

Malam yang Kedua di Daerah Anggrek.

Sesudah mengunggah cerita Instagram itu, aku sungguh berharap Karin akan melihatnya. Dan semesta benar-benar merestui.

Di antara semua deretan nama yang melihat Instagramku, yang kalau boleh jujur isinya sampah semua, aku senang sekali. Bagaimana ya menjelaskannya? Pokoknya aku senyum sendiri setelah kudapati nama Karin ada di sana.

Mungkin kalau bisa aku balik ke masa SD, aku akan menjelaskannya dengan puisi seperti ini:

Oh sungguh! Hatiku berbunga-bunga. Pohon jambu yang ada di depanku saat ini bukan lagi pohon jambu. Di mataku adalah pohon bunga sakura.

Karin, namamu seakan menggelitik ketiakku yang berbau agak aneh hari ini. Oh Karin, sudikah kamu mencintai lelaki berbau tanah sepertiku. Duhaaaaai Karinku, sayang kalau kita cuman saling mengintip lewat cerita.

Namun itu terlalu jorok dan kekanak-kanakan untuk seseorang yang sudah mungkin sedikit pandai memilih diksi. Dan kalaupun begitu, aku tetap susah menjelaskan kesenanganku. Kalau galau, aku bisa, tapi juga terbatas. Siapa juga yang mau galau? Coba kalian yang berada di posisiku saat ini. Aku tebak kalian juga akan sedikit kesusahan menjelaskan perasaan. Betul? Ah, betulkan saja biar aku bisa melanjutkan ceritanya.

Sesudah kulihat ada Karin melihat ceritaku, aku seketika punya rutinitas baru yang lahir tanpa kusadari. Rutinitasnya lumayan ribet. Pertama, aku akan mengunggah cerita di Instagram. Kedua, aku akan menunggu beberapa menit. Ketiga, aku akan mencari nama Karin. Terakhir, aku tersenyum sendiri saat melihat namanya.

Bodoh? Iya, betul. Barang siapa pun pernah bodoh soal cinta. Aku yakin. Kalian? Huh! Aku hanya berharap kalian jangan seperti aku.

 

( ͡° ͜ʖ ͡°)

 

Karena Mungkin Ternyata, Karin Juga Suka Buku.

Setelah beberapa kali bolak-balik Instagram, akhirnya pada pukul 21.13 WITA, Karin mengunggah sebuah cerita.

Tanpa ba-bi-bu dan na-ini-nu, aku membukanya. Sontak aku tersenyum, tak bisa kuartikan itu senyum apa namanya. Yang pasti ada senyum kebahagiaan, ada senyum sinis, dan ada senyum kebanggaan. Kalau digabung jadinya senyum yang tidak jelas.

Tahu apa yang diunggah Karin? Oke, kujelaskan. Karin baru saja mengunggah foto isi buku berisi sebuah kutipan. Aku tidak akan bilang kutipannya apa karena itu milik penulisnya. Sekaku apa pun tulisanku, aku tidak pernah berniat menjiplak tulisan penulis lain, atau yang tepatnya disebut plagiasi.

Lalu mengapa hal itu membuatku tersenyum tidak jelas? Ya karena ternyata mungkin Karin juga suka buku. Dan kalian pasti sudah yakin dari awal bahwa aku juga suka buku. Walaupun buku yang kupunya tidak banyak. Aku hanya punya satu buku dari abangku sewaktu kelas 2 SMP, judulnya Dunia Sophie. Buku itu mengawaniku dari SMK sampai lulus. Lalu aku membeli yang baru dengan judul yang sama dan penulis yang sama: Dunia Anna karya Jostein Gaarder. Di Gramedia Samarinda aku beli lagi Filosofi Teras karya Henry Manampiring dan Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Satu lagi, Sejarah Filsafat Barat karya Bertrand Russell.

Biar aku tebak, kalian pasti berpikir aku pakar filsafat? Tidak sama sekali. Kalau kalian menyuruhku menjelaskan semua buku yang sudah kusebutkan, jujur aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Bayangkan, di Dunia Sophie aku hanya ingat kalau tokoh utamanya suka memelihara binatang. Kalau tidak percaya, coba baca. Di Dunia Anna, aku hanya ingat tentang tahun 2082. Di Sejarah Filsafat Barat, aku hanya ingat satu tokoh bernama Seneca. Ah sudahlah, lebih baik kita lanjutkan ceritanya.

Oke. Karena aku sudah mulai menerka kalau Karin juga suka membaca buku, atau paling tidak memelihara buku di kamarnya, maka bukan Sendu namanya kalau tidak mencari perhatian. Usaha pertama.

Aku mengambil buku yang ke mana-mana kubawa, yaitu bukunya Mark Manson. Kufoto, kupangkas yang tidak perlu, lalu kuunggah dengan lagu dari Nadin Amizah berjudul Bertaut.

Belum puas, aku mengambil buku karyaku sendiri.

Hei! Miskin-miskin dan menjijikkan seperti ini, aku sudah memakan hasil karyaku sendiri tahu. Aku sudah membayar kos dari hasil karyaku. Dan uang kos yang memang disediakan dari kampung, aku gunakan membeli rokok dan foya-foya bersama teman. Kalau bapakku tahu, mungkin dia akan marah besar. Untung bapakku tidak terlalu pandai membaca.

Tapi kalian jangan ikut-ikutan ya! Itu BERDOSA namanya.

Sudah-sudah, kembali ke cerita.

Aku Sendu yang tidak mau kalah saing. Aku unggah tulisanku sendiri, dan tak lama kemudian ada like dari Karin. Sudahlah, aku tidak mampu menjelaskan sebahagia apa diriku. Andai kata jembatan putih bisa kumakan, mungkin sekarang sudah macet di depan GOR.

Hari itulah, aku sering mengunggah cerita di Instagramku.

Lebai? Mau bagaimana lagi teman-teman. Begitulah kenyataannya.

Mungkin itu saja untuk malam ini, aku mau makan. Kalian tidak makan? Atau kalian mau gabung makan sama aku? Tapi di kosku hanya ada telur ayam. Kalian mau?

Oke kalau kalian tidak mau. Sampai jumpa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Toraja - Palopo

3. Baju yang Sama