1. Toraja - Palopo

1

Aku Pikir Karin itu Sederhana

 

 

Teman yang Sedikit di Atas dari Kata Teman. Jumat, 01 Mei 2026.

Aku Senduansa Priadi Tirta. Abang memanggilku Sendu. Bapakku orang Toraja dan bundaku juga orang Toraja. Jadi aku asli orang Toraja. Namun kalau kalian berharap ada bahasa Toraja sepanjang cerita ini, kuharap kalian mengurangi harapan itu. Mengapa? Karena menerjemahkan bahasa Toraja ke dalam bahasa Indonesia sedikit sulit bagiku. Maka dari itu, aku menulisnya dalam bahasa Indonesia, sebaku mungkin, sebisa mungkin, dan setidaknya sebaik mungkin sampai akhir cerita.

Kalian mungkin sudah tahu Toraja, tapi sekarang aku ada di Palopo. Kalau kalian belum tahu kedua daerah itu, bisa dicari di Google saja.

Palopo itu panas. Oleh karena itu, di sampingku sekarang ada kipas, dan dialah yang mengawaniku menulis cerita ini. Kawan-kawannya: secangkir kopi asli Toraja, dikirim kakak lusa yang lalu, dan sebatang rokok kretek. Iya, betul, aku perokok.

Cerita ini bukan cerita yang penuh pertemuan dramatis atau berliku panjang. Bukan cerita tentang seorang tentara yang jatuh cinta pada bidan, lalu pergi berperang, lalu pulang, lalu mereka bersatu, lalu perang lagi, lalu pulang lagi, tapi ternyata si bidan sudah menikah dengan tukang galon. Lalu tentara itu marah dan membakar tukang galon bersama bidan kesayangannya.

Kok jadi seram, ya? Tidak, kok, itu bukan cerita yang akan aku ceritakan. Yang akan aku ceritakan cukup sederhana, karena memang aku suka hal-hal sederhana tapi menyenangkan. Bahagia saja, menurutku.

Aku akan bercerita tentang seorang teman dekat. Namanya Karin. Suatu hari, saat aku mulai dekat dengannya, dia bilang kalau dia tinggal di Luwu Timur.

Tapi beberapa menit kemudian, dia bilang, "Bukan asli orang Lutim."

Lalu aku tanya, "Terus orang mana?"

Saat sudah kutanyakan, aku pikir Karin akan menjawab dengan aneh, seperti biasanya. Namun tidak. Karin menjawab dengan normal. "Orang Luwu Utara."

"Tapi ada campuran Lutim-nya."

"Iya."

"Jadi resminya orang mana?"

"Orang utan."

Sudah itu aku tersenyum sendiri. Itulah sedikit tentang Karin. Kadang lucu dan juga aneh, tapi Karin tetap Karin. Dia tetap istimewa.

Kami masih teman, bukan pacar, apalagi suami istri. Menurutku, kami itu teman yang sedikit di atas dari kata teman. Atau begini, aku menyukainya. Soal apakah Karin suka balik atau tidak, aku tidak terlalu memusingkannya.

 

( ͡° ͜ʖ ͡°)

 

Akun Karin. 11 Mei 2023.

2023 yang lalu, aku mulai mengikuti Instagramnya. Kalau tidak salah, gambar profilnya adalah fotonya sendiri, bukan seperti kebanyakan temanku yang takut memasang foto profil dengan alasan tidak percaya diri. Tahu kalian, aku pernah seperti itu juga.

Di foto itu, dia memegang buket bunga warna-warni. Di bio-nya tertulis sebuah kutipan. Bunyinya kira-kira begini setelah aku merevisinya:

"Hal sederhana yang sulit dilakukan adalah hidup yang sederhana."

"Bijak kata-katanya," kataku sendiri saat itu.

Kalau kalian bertanya mengapa aku merevisinya, karena aku sudah tidak mengingat persis semua katanya. Hanya perihal kesederhanaan yang masih kuingat.

Dan apakah kalian tahu? Hari itu aku langsung tergoda oleh apa yang kubaca. Aku pikir Karin orangnya sederhana.

Setelah tersenyum sendiri cukup lama, aku berharap ada unggahannya. Nyatanya tidak ada. Maka aku beralih melihat profilnya, bukan satu atau dua kali, melainkan berulang kali.

Aku sempat berniat mengirim pesan padanya, tapi aku malu. Di hari yang sama, aku mulai mencari tahu siapa sebenarnya Karin itu.

Dan di hari yang sama pula, buku harianku mulai terisi dengan namanya, bersama hari-hari menyenangkan milik seorang yang bisu terhadap perasaannya sendiri.

 

( ͡° ͜ʖ ͡°)

 

Bolu, 09 Juli 2023.

Bolu ada di Toraja Utara. Di sebuah warung makan, yang lupa kutulis namanya dalam buku harian, aku singgah sejenak karena hujan mengutuk untuk datang tepat saat aku mau turun ke Palopo.

Aku makan, merokok sebatang dua batang, dan memesan segelas kopi hangat sebab Toraja memang tempatnya dingin. Di sela kretek dan kopi yang saling melengkapi, aku membuka ponsel. Dan tidak ada yang paling menarik untuk dibuka selain Instagram, tepatnya akun Karin. Tapi sayang, tidak ada unggahan baru. Kesedihan kecil itu membuatku berhenti memainkan ponsel.

Aku merenung sebentar, membayangkan siapa saja yang akan menjadi temanku nanti di Palopo. Karena terlalu banyak yang kupikirkan, akhirnya aku menulis:

 

Halo, apa kabar Juli? Dan apa kabar masa depan?

Aku menunggumu di Palopo, yang telah bersedia berperang dan menantikan dirimu membawa panglima tempurmu.

Aku tak boleh takut! Aku punya senjata bernama segenggam mimpi. Ia telah menggerakkan kakiku menyusuri kerikil kaca hingga ke Samarinda sana, tapi gagal, mungkin karena Ibuku belum mau kalau aku jauh darinya.

Kau seharusnya tahu itu, bahwa mawarku yang hampir layu akan tumbuh subur di Palopo.

Aku mungkin sedikit kecewa karena gagal di Samarinda, tapi air hujan kini menyapunya hingga tidak tersisa sama sekali.

Datanglah, masa depanku! Aku sudah siap dengan segenap jiwa dan ragaku.

 

Bolu, hampir tengah hari. 11.38 WITA. 09 Juli 2023

 

Itulah tulisanku yang pertama semenjak kembali pulang ke tanah kelahiran, Toraja. Singkat cerita, aku ke Samarinda untuk magang sekaligus seleksi apakah manusia sepertiku layak diterima UNMUL atau tidak. Kenyataannya, tidak. Bapakku bilang kalau itu berarti bukan rezeki. Aku iyakan saja. Lebih kurangnya, aku di Samarinda sekitar sembilan bulan.

Oke, kembali ke cerita.

Apakah kalian tahu apa yang terjadi sesudah aku menulis itu? Anak-anak muda yang duduk di meja paling dekat kasir menertawaiku bersama teman-temannya. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin mereka merasa aneh dengan apa yang kulakukan.

Aku tidak peduli. Menulis bukan persoalan besar. Setiap orang berhak menulis, di mana pun, kalau memang perlu.

Setelah saling membalas senyum dengan kumpulan anak muda itu, aku membuka lagi ponselku, mencari nama Karin, lalu berkhayal bahwa suatu hari nanti aku akan bertemu dengannya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, hujan reda. Aku bersiap melanjutkan perjalanan. Di ambang pintu keluar, ada ibu-ibu baru saja datang. Dia menurunkan payungnya, warnanya biru langit dengan corak bunga.

Aku senyum. Ibu-ibu itu juga senyum. Lalu aku melanjutkan langkah, tapi aku sadar dia terus memandangku.

"Apara ya tu?" tanya ibu-ibu itu dalam bahasa Toraja.

Kira-kira artinya: "Itu apa?"

"Sayur, Bu," kataku pelan.

"Umbara mi ola na?"

Artinya kira-kira: "Ke mana kamu pergi?"

"Palopo," jawabku singkat.

Ibu-ibu itu mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati."

Aku mengangguk, lalu memperbaiki posisi karung berisi sayur di atas motorku.

Apakah kalian bertanya mengapa tiba-tiba ada sayur? Sayur itu titipan kakak untuk temannya di Palopo. Aku iya-iya saja, lagian tidak berat.

Daerahku memang penghasil sayur-mayur yang melimpah: tomat, kubis, sawi, kangkung, wortel, cabai, kacang-kacangan, dan masih banyak lagi. Yang paling sering kumakan adalah tomat, sawi, dan kubis. Bapakku sering menanamnya karena beliau memang seorang petani, kadang dibantu bundaku karena mereka berdua adalah sepasang petani. Aku? Jelas anak petani. Gengsi? Tidak sama sekali.

Aku berangkat dengan motor Jupiter Z1. Masih di dalam kawasan Bolu, aku berhenti di depan SPBU Pertamina Bolu untuk menunggu temanku, Rensfano. Kalian bisa memanggilnya Rens.

Rens lebih dulu mengenal Palopo daripada aku sebab dia memang lebih awal kuliah, angkatan 2022. Kami berkawan baik, satu kampung, dan satu alumni dari SMK Andika Mebali. Hanya saja, kami beda jurusan. Aku Geologi Pertambangan, dan Rens, kalau tidak keliru, jurusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan).

Rens pula yang menjadi cikal bakal mengapa aku memilih Palopo. Saat aku tidak lolos di UNMUL, Rens mengirim pesan WhatsApp bahwa kampusnya membuka program studi baru: Teknik Pertambangan. Hal itu membuatku berulang kali menimbang, apakah ke Universitas Bosowa atau ke Universitas Pejuang Republik Indonesia, keduanya ada di Makassar. Tapi akhirnya aku memilih kampusnya Rens, walaupun hari itu aku masih susah menyebutkan nama kampusnya.

Hampir dua puluh menit aku menunggu di depan Pertamina Bolu, sampai akhirnya Rens datang bersama seorang laki-laki yang katanya sepupunya.

Mengapa Rens ada di Bolu juga adalah pertanyaan yang perlu kujawab. Rens sebetulnya ada kegiatan di Sesean, aku kurang tahu kegiatan apa. Jelasnya, aku menunggu Rens di Bolu karena dia akan kembali ke Palopo dan bersedia memberikan tumpangan di kamar kosnya untuk beberapa hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2. Rutinitas Bodoh yang Menyenangkan

3. Baju yang Sama