8. Seperti Gado-gado
8
Seperti Gado-gado
Mapongka. 23 Juli 2023.
Feli
menuntun jalanku menuju bukit padang rumput. Kalau dari jauh, tampak seperti
sabana. Kalau dekat, seperti padang rumput. Itu menurutku, kalau orang lain,
aku tak tahu.
Tempat itu cocok untuk camping. Sewaktu dulu, banyak
anak-anak remaja memilih tempat ini untuk pacaran. Kejadian juga banyak
terjadi, cuman aku tidak terlalu menyukai pembahasan itu. Menurutku, itu
merusak pemandangan tempat itu.
Kami berjalan sambil bercerita. Feli masih manja, dia
tak mau menginjak jalan becek, takut kotor. Berjalan sangat hati-hati, takut
jatuh. Tapi justru itulah yang membuatku selalu memperhatikan Feli, dan hal itu
tertanam dalam ingatanku.
"Kok, kamu telat, Sen?" tanya Feli. Dia baru
saja melompati sedikit lumpur di depannya.
"Aku singgah di rumahmu," jawabku.
Feli berhenti sebentar. "Ha? Ngapain?"
"Kenalan sama papamu."
"Kan udah kenal."
"Nggak, dia lupa sama aku."
Feli lanjut berjalan dengan keningnya yang terus
mengerut. Aku tetap berhati-hati dan bersiap-siap. Siapa tahu Feli jatuh.
"Lagian, kamu banyak berubah, Sen. Apalagi
wajahmu, wajar kalau papaku sudah tidak mengenalimu," jelas Feli.
Aku juga berhenti sejenak, berpikir. "Iya juga
sih, ibuku juga bilang begitu. Tapi monyongku tetap."
"Ihk! Gila! Jangan gitu, Sen. Menghina diri
sendiri itu sama saja menghina Tuhan, ibumu dan ayahmu. NGGAK BOLEH!" Feli
menekankan.
Aku tertawa kecil, lalu lanjut berjalan. "Monyong
gini, itu suatu fakta yang tidak bisa lepas dariku, Fel. Aku bukan menghina,
tapi mengakuinya."
"Humm, iya juga sih. Sejauh ini, aku belum
menemukan orang sepertimu, Sen."
"Seperti bagaimana?"
"Suka sama dirinya sendiri. Aku jadi takut kalau
kamu terlalu suka sama diri kamu sendiri. Bagaimana kalau kamu tidak menyukai
orang lain?"
"Kalau itu, nanti ada kok. Aku cukup menerima
diriku dulu, supaya nanti aku lebih nyaman mendekati orang tanpa memikirkan
kekuranganku."
"Jadi, kamu anggap monyong itu kekuranganmu,
Sen?"
"Aku menurutnya begitu."
Feli menatapku tajam tapi justru manis. "Dasar
bocah bodoh. Itu juga banyak yang suka, di luar negeri."
"Itu bukannya melebih-lebihkan, Fel?"
"Arg! Susah banget mengajakmu bersyukur, Sen. Aku
heran, kenapa orang-orang suka cerita sama kamu. Padahal kamu berisik, nggak
mau diam, ditanya ada aja jawabannya."
Aku berhenti lagi. Itu sedikit menyenggol perasaanku.
"Karena mungkin aku tidak bisu, jadi aku menjawab dan bercerita. Ya,
mungkin itu."
"Tuh, kan. Ada aja jawabannya."
Feli akhirnya menyerah, dan kami segera tiba di atas
bukit. Maka tertampaklah pesona indah tempat itu. Luas dan memanjakan mata.
Bandara Udara Buntu Kunik sangat jelas terlihat.
Beberapa orang juga ada dalam pandangku. Anak-anak
main motor di jalur dua. Orang-orang pacaran, dan beberapa lainnya baru
melepaskan tenda. Aku jadi rindu suasana camping.
"Bagus ya, Sen," kata Feli menatap jauh ke
bawah, ke arah bandara.
"Alam memang bagus, apalagi kalau ada aku dan
kamu di dalamnya."
Feli tersenyum. "Tapi sayang, kita hanya
teman."
Aku mengernyit, lalu menutup satu mata.
"Maumu?"
"Tetap teman," kata Feli. "Aku tak mau
lebih dari itu, Sen. Jujur aku suka, saking sukanya, aku masih tak mau kamu
hilang."
"Alasannya?"
"Kalau kita pacaran, itu justru membuat kita
semakin rawan saling meninggalkan. Aku jujur lagi. Hal itu membuatku takut.
Kalau begini saja seterusnya, aku jamin akan tetap seperti hari ini.
Se-la-ma-nya," jelas Feli begitu dalam.
"Terus, bagaimana dengan perasaanmu, Fel?"
tanyaku agak lirih.
Feli sontak menatapku dengan manja. "Cih! Kamu
sendiri, Sen?"
Aku tertawa kecil sebagai bukti bahwa perasaanku juga
sedang bingung, persis sama seperti perasaan Feli. Takut, tapi juga yakin. Campur
aduk seperti gado-gado.
Kami sama-sama diam sejenak. Sudah itu, Feli menuju
sebuah pohon pinus yang sudah tumbang. Ketika Feli hendak duduk, aku berteriak
kecil.
"Tunggu, Fel!"
Feli berhenti dan menatapku kebingungan. Aku melangkah
menuju pohon pinus di depannya.
"Halo pohon pinus, aku tidak tahu seberapa banyak
orang yang kamu selamatkan dari oksigenmu semasa hidup. Tapi mungkin kamu sudah
waktunya wafat. Maaf ya, kami mau duduk," kataku pada pohon pinus tumbang
itu.
Feli tertawa lepas menyaksikan itu. "Hahaha, kamu
makin gila, Sen. Dulu kamu sering bicara sama benda, hewan, sekarang sudah
berkembang ke alam. GILA!"
Aku tersenyum, lalu duduk di atas pohon pinus. Barulah
kupersilakan Feli duduk di sampingku.
"Barangkali itu tanda terima kasih padanya,"
jawabku sederhana.
Feli masih tertawa. "Tapi kamu terlalu pandai
membuatku tertawa, Sen. Justru karena kamu gila, makanya aku senang
bersamamu."
Aku tersenyum lagi. Suasana seketika menghening
sebentar. Hanya suara dedaunan berjatuhan dan bergoyang diterpa angin. Di
sampingku, Feli sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Tak lama kemudian, dia
mengeluarkan sebuah buku binder dan pulpen, lalu memberikannya padaku.
"Nih, dulu kamu suka sekali sama binder dan
pulpen biru."
Aku senang. Gembira. Bahagia. Feli bukan hanya ingat
tentang kebiasaanku, tapi juga ingat barang kesukaanku. Aku menerimanya.
"Makasih, Fel. Ini berharga," ujarku.
Setelah menerima itu, aku merasa kecil. Sesuatu
menghampiri perasaanku, tiba-tiba merasa sedih dan rendah.
"Tapi aku belum bisa memberimu barang kesukaanmu,
Fel," ucapku.
Feli tersenyum lembut, memalingkan pandangannya dari
wajahku. "Kamu sudah memberiku bahagia, Sen. Apa itu tak cukup
bagiku?"
"Bukan hanya memberi, tapi juga menciptakan dunia
yang sangat berbeda dari yang lain. Aku betah di dalamnya. Dan aku tak butuh
barang apa pun, uang apalagi. Aku hanya mau memiliki teman sepertimu,"
tambahnya.
Aku terdiam, merenungkan perkataan Feli. Dia sudah
sedewasa itu dan memberi pandangan yang aku rasa tidak mungkin terjadi secara
kebetulan, namun melalui perasaan yang betul-betul mendalam.
"Aku jadi kepikiran, Fel. Bagaimana kalau kita
pacaran, sedangkan aku masih tak punya banyak hal yang pantas dibanggakan.
Emang betul, pantasnya kita temanan saja," jelasku.
"Sen, nggak baik merendah terus. Kamu pikir aku
kasihan? Tidak ya, Sen," ungkap Feli. "Aku nggak mau pacaran karena
masih punya masa depan."
Aku mengangkat kepala dengan cepat, membunyikan
jempolku. "Nah! Itu dia yang dicari pikiranku, masa depan."
"Ha?" Feli menganga menatapku.
"Masa depan. Mungkin karena aku masih berkhayal
tentang itu, makanya aku merasa belum banyak punya apa-apa. Andaikan masa depan
terjamin, mungkin aku tidak banyak memusingkan hal yang terjadi ke depannya.
Contohnya pacaran, kan itu hal yang berjalan ke depan," paparku.
Feli mengangguk, lalu menatapku dengan gaya rayuannya
yang khas. "Bagaimana kalau kamu adalah masa depanku?"
Aku berpikir sebentar. "Kalau aku adalah masa
depanmu, toh kita bisa menikah dan masalah masa depanmu selesai. Demikian
sebaliknya, tapi..."
Hilang seketika dalam otakku kelanjutannya. Maka di
sela-sela kebingungan itu, Feli menggunakannya untuk memegang tanganku,
meyakinkan diriku.
"Bagiku, hidup bukan tentang lahir, pacaran, lalu
menikah. Tapi hidup adalah belajar, berusaha, bekerja keras, dan membuktikan
kalau kita bertanggung jawab pada pilihan," jelasku kemudian.
Feli akhirnya tersenyum setelah aku bertarung
besar-besaran untuk merangkai kata-kata. "Kamu hebat, Sen. Aku
sepakat."
"Janji ya, Sen. Tidak boleh pacaran sampai lulus
kuliah," kata Feli menautkan kelingkingnya.
Kecil, lembut, dan halus. Hanya itu yang benar-benar
tertanam di dalam ingatanku. Sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh seorang pun
padaku, bahkan cinta monyetku bernama Mawar pun tak melakukannya.
Entah mengapa juga, mulutku berkata. "Iya, aku
janji."
Feli tersenyum bahagia, manis nun lembut. Seperti
namanya.
"Tapi boong," kataku kemudian.
Dengan wajah setengah marah dan setengah bahagia, Feli
memukul bahuku dengan keras. "Kubunuh kamu, Sen."
Aku tertawa. "Yakin?"
"Mau?"
Aku mendekatkan wajahku. "Coba aja."
Aku tahu Feli tidak akan melakukannya. Kubawa pipiku
lebih dekat pada wajah Feli.
"Kamu lucu, Sen. Tapi lucumu kali ini membuatku
takut," kata Feli menarik wajahnya.
Aku memperbaiki posisi kepala. "Maksudnya?"
"Aku jadi takut ada setan yang ikut menyaksikan
kelucuan kita."
"Mana setannya, biar aku perko...."
"Tuh, kamu kerasukan setannya, Sen," potong
Feli sangat cepat. Sudah itu dia meloncat dari atas pohon pinus tumbang, lalu
berlari turun dari bukit.
Aku paham maksud Feli, aku tertawa kecil. Sudah itu, turun
mengejarnya. "Hati-hati, Fel!"
"Sok perhatian!" teriak Feli.
"Tapi kamu suka."
"Bodoh amat!"
Akhirnya Feli tertawa lepas sambil terus berjalan
menuju motorku. Aku menyadari satu hal, bahwa Feli tidak hilang dalam
perasaannya, juga denganku. Dia orang yang sama. Hanya perasaan kami saling
membingungkan, bercampur seperti gado-gado.
( ͡° ͜ʖ ͡°)
Di
parkiran, terjadi sesuatu yang sesungguhnya memberatkan perasaanku. Feli
tiba-tiba murung tanpa penjelasan sama sekali denganku.
Aku sibuk dengan besi tuaku. Di belakang, kemanjaan
Feli kembali menguasai tubuhnya. Dia menunda untuk naik ke atas motorku. Aku
mulai lagi mengecil. Apakah motorku sudah kelewat fase? Takut sama aroma
tubuhku yang berbasis sabun pakaian? Atau juga mungkin takut aku membawanya
jauh?
Aku tak mengerti, lebih baik aku bertanya saja padanya.
“Kenapa, Fel. Motorku nggak makan orang kok.”
Kulihat Feli memperbaiki posisi tasnya, lalu tersenyum
menuju ke arahku. Tepat di sampingku, ia berdiri.
“Ini gelang peringatan namanya, Sen. Kalau kamu tidak
punya pacar, pakai ya. Kalau ada, lepas saja, tapi jangan dibuang,” kata Feli
memberikan gelang hitam yang sementara dia lilitkan di pergelangan tanganku.
“Kok?”
“Udah diam. Aku berubah pikiran, Sen. Kita masih
terlalu dini untuk masuk ke hak pilih masing-masing. Hanya, semoga kamu tak
lupa denganku, Sen.”
Aku tercengang. Sesudah Feli melilitkan gelang itu,
aku merasa terjaga darinya.
“Siap, nyonya.”
“Bacot.”
Feli menatap gelang dalam pergelangan tanganku. Dia
sungguh-sungguh tulus tersenyum. Namun bola matanya jelas menyiratkan sesuatu yang
sedih. Aku masih tak tahu apa yang sebenarnya Feli tunjukkan padaku.
“El, kalau Sendu macam-macam sama perempuan, tolong
ingatkan dia ya. Tak boleh menyentuh perempuan, tak boleh menyentuh obat-obat
haram, dan tak boleh lelah bekerja keras. Kalau sampai itu terjadi, aku akan
membakarmu,” kata Feli pada gelang bernama El itu.
“Jadi nama gelang ini, El?”
Feli mengangkat kepalanya, lalu tersenyum lembut padaku.
“Iya, dulu aku susah mengucapkan huruf R. Semoga gelang ini sama sepertiku saat
itu. Berusaha sampai bisa mengucapkannya dengan tepat. Dan... bisa diingat
selalu.”
Aku tiba-tiba takut. Suasa sekitar seolah menjadi
sangat gelap, seperti gelang yang baru saja Feli berikan padaku.
“Kok, aku takut ya Fel.” Angin kencang menabrak
wajahku, membelai rambut panjang Feli hingga menutupi matanya. Dengan cepat dia
memperbaiki rambutnya. Ketika bola matanya menatapku, sesuatu muncul dari dalam
perasaanku.
Aku mengangkat tanganku, memperbaiki sisa-sisa rambut
tipis yang menutupi wajah Feli. “Kok angin ini seolah membawamu ke tempat yang
jauh, Fel.”
Feli tersenyum samar. “Udah, Sen. Jangan aneh-aneh.
Yok, kita pulang.”
Aku hanya bisa menuruti apa permintaan Feli, namun
rasa takut masih jelas membuat jantungku tak tenang.
Komentar
Posting Komentar