6. Masa Lalu Vs Masa Depan. Siapa yang Akan Menang

6

Masa Lalu Vs Masa Depan. Siapa yang Akan Menang?

 

Feli itu Munafik. 22 Juli 2023.

Tanggal 22 Juli 2023. Hari itu kutemukan kembali sesosok yang dulu selalu menjadi hal yang kutulis di dalam kertas yang kusut.

Ketika aku duduk di depan ketiga temanku, Vhira, Amrah, dan Meisna, kami menunggu misa pagi. Tak lama kemudian, datang sosok yang cantik, anggun, dan lembut. Namun aku tidak akan tertipu dengan kelebihan yang dia miliki.

Namanya Felania Jhemsi, disapa Feli pada umumnya. Dia sudah menjadi temanku sejak SMP hingga saat ini. Sempat terjadi rasa nyaman dengannya, apalagi sejak masa SMP. Sampai akhirnya, dia menjadi salah satu alasanku untuk meninggalkan Toraja.

Dia memang cantik, dan aku pun pernah suka padanya. Tapi suka bukan berarti kita harus memiliki, kan? Aku rasa begitu.

Aku mendekatinya cukup lama sampai ada hal yang membuatku memilih mundur. Kelebihan yang ada padanya justru menjadi alat untuk memanipulasi banyak laki-laki. Aku salah satu korbannya.

"Hai, Sen. Kamu sudah balik?" tanyanya saat mendapatiku sedang bergurau bersama trio girls.

Aku menoleh. "Iya, aku masih Sendu dan Sendu selalu pulang."

Trio girls tertawa tipis-tipis mendengar itu.

Tak lama kemudian, Feli bergabung bersama kami. Ada rasa tidak aman yang tiba-tiba menghampiri trio girls. Pantat mereka mulai panas, lalu berpindah tempat dengan alasan pergi ke toilet. Maka tertinggallah aku bersama Feli.

Kutatap Feli. Masih cantik dan putih seperti dulu. Manis dan cerah sepanjang hari. Tapi aku bukan laki-laki bodoh. Jelek bagaimana pun aku, paling tidak aku masih terselamatkan oleh pemikiranku. Aku tak boleh tertipu daya tarik fisik itu.

"Bagaimana cita-citamu, Sen?" tanya Feli.

Keningku mengerut. "Cita-cita yang mana? Aku punya banyak cita-cita."

Feli tersenyum. Senyum yang tersirat harapan, bukan sekadar senyuman biasa. Bola matanya juga tidak bisa bohong kalau dia masih punya rasa padaku.

"Pilot itu. Kamu ingat pas kita masih SMP?" tanya Feli.

Itulah senjata utama Feli. Dia akan mengupas kembali ingatan masa lalu, tentang kebersamaan yang dulu pernah terjalin. Sudah itu dia akan berpura-pura nyaman dan sedih supaya bisa mendapatkan perhatianku lagi.

"Itu dulu. Tapi tadi pagi aku baru saja tahu kalau ternyata di dalam pesawat tidak bisa merokok. Jadi aku memutuskan untuk mengubur cita-cita itu," jelasku.

Feli tertawa kecil, lalu menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Gerakan itu sudah pasti ingin menjatuhkanku ke dalam tipu daya pose paling cantiknya.

"Kamu tidak berubah, Sen."

Aku tertawa dalam hati. Permainan semacam itu sudah kutonton berulang kali di FTV.

"Buat apa aku berubah, apalagi hanya karena seseorang. Aku hanya mau berubah kalau aku sudah punya niat." Tanpa sadar, aku sudah menunjukkan perubahan tingkat tengah dalam hidupku: berani mengikuti kata hati.

"Kamu selalu membuatku tertawa, Sen," kata Feli, menatapku kembali.

Batinku berbisik. "Apa tidak salah kalau kumaki wanita ini di depan rumah Tuhan? Besok saja."

Aku hanya tersenyum lalu pergi ke samping gereja, tempat trio girls melarikan diri.

Feli tetap memperhatikanku hingga aku berhenti melangkah.

"Sen," kata Vhira.

Amrah mendekatkan wajahnya, sementara Meisna siap menyimak.

"Apa kata dia padamu?" sambung Vhira.

"Jangan bilang kamu masih suka padanya," sela Amrah.

"Biasalah..."

"Apa?" bujuk Meisna.

"Apa lagi kalau bukan rayuan. Bukankah seseorang akan lebih cepat luluh kalau dirayu? Apalagi kalau itu berbasis bentuk tubuh dan isi kantong," paparku.

Mereka bertiga tertawa. Setelah tertawa singkat itu, Vhira berkata. "Dunia memang tempatnya hal seperti itu, Sen. Kita hanya perlu lebih pandai mengelola hasrat."

"Jangan mencoba menggurui monyet memanjat, Vhir." Amrah menyikut Vhira.

Aku mengerti maksud Amrah: kata-kata mutiara adalah makananku.

Tak lama kemudian, lonceng gereja berbunyi. Aku segera menebus dosa yang sepagi itu sudah datang padaku.

Dalam gereja, aku duduk bersama Feli.

Mampus.

 

( ͡° ͜ʖ ͡°)

 

Sedikit Kecemasan.

Malamnya, ketika aku dan Kak Natan duduk membaca bersama di teras, ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku membiarkannya karena alarmku belum berbunyi. Tak lama, berbunyi lagi.

Kak Natan menatapku sebentar. Tatapan itu dapat kuterjemahkan bahwa dia tidak suka dengan notifikasi ponselku. Maka aku meraihnya dan menggantinya ke mode diam.

Namun notifikasi itu ternyata membuatku melupakan buku bacaan. Aku tak tahu mengapa pesan Feli sangat sulit kuabaikan.

 

WhatsApp:

Feli Gadis Konglomerat

 

Tadi kamu omongin aku ya Sen?

Kok tau?

Aku memang pernah seburuk itu

Sen, tapi kamu pernah bilang

kalau suatu kelak manusia akan berubah.

Jadi kamu tak suka

Kalau kami memujimu

Yang berhasil lolos di UNMUL?

Iya?

Aku tidak percaya.

 

Terus kenapa kamu

Rajin ke gereja?

Soalnya aku kira

Kalian tidak suka denganku

Karena sikapku dulu.

Kalau pikiranmu selalu negatif

Bagaimana kamu menerapkan

Ibadah dan perilakumu?

 

Lama tak terbalas dan aku memutuskan untuk melanjutkan kegiatan sebelumnya. Aku membaringkan ponsel di atas meja, lalu lanjut membaca.

Hampir selesai satu halaman, notifikasi berbunyi lagi. Aku mengintip di jendela ponsel. Benar, pesan itu dari Feli.

 

Inilah alasan

Mengapa sulit melupakanmu Sen

Karena aku mengomentari

Cara berpikirmu?

Tidak, Bukan itu.

Tapi kamu selalu membawaku

Pada renungan singkat.

Kak Natan merebut ponselku lalu membaca pesan Feli. Dia mengetik sebentar, lalu meletakkan ponselku di belakangnya. Sudah itu dia bertanya padaku.

"Anak ini yang udah pernah hamil, kan?"

Aku menjawab jujur. "Iya, Kak."

"Jadi kamu pernah pacaran sama dia?" Kak Natan mulai menginterogasi.

"Ahk, tidak. Aku hanya pernah dekat dengannya. Pas beritanya tersebar soal kehamilannya, aku menjauh."

"Benar? Nggak bohong kan?"

"Iyalah, Kak. Kalau tidak percaya, datangi rumahnya."

Kak Natan mengangguk-angguk. "Dia pembunuh. Berteman dengan orang seperti itu melelahkan."

"Iya. Aku sudah rasa, Kak."

Kak Natan kemudian memberikan kembali ponselku, lalu kembali pada buku bacaannya.

Aku penasaran dengan apa yang diketik Kak Natan tadi. Buru-buru aku membuka obrolan dengan Feli.

 

Selamat merenungkan

Penyesalanmu.

Tapi jangan sampai

Kamu menjadi pembunuh

Untuk dirimu sendiri.

 

Aku tersenyum lega melihat layar ponsel. Kukira Kak Natan akan membalasnya dengan kata kasar, tapi ternyata justru membuat Feli semakin betah mengirim pesan padaku.

 

Siapa yang tidak nyaman

Kalau isi pesannya begini Sen.

Tapi kamu tidak keberatan

Kalau aku tidak membalasnya kan?

Kamu mau menjauh?

Tidak.

Aku hanya ingin kamu tahu,

kalau menjadi manusia itu ada batasnya.

Itu juga hakmu.

Nah, itu tahu.

 

"Astaga!" teriakku lumayan keras.

"Anj*ng," kata Kak Natan. "Matumbako?"

Matumbako, dalam bahasa Toraja, berarti: Kamu kenapa?

Aku tersenyum dan tidak menjawab apa-apa. Aku berteriak karena tiba-tiba teringat sesuatu. Kaget karena ternyata aku lupa menulis hari ini. Itu seakan aku kehilangan banyak makna dalam hari-hariku.

"Kenapa kaget?" ulang Kak Natan.

"Lupa menulis, Kak."

"Ahk, kukira apa," kata Kak Natan sebal. "Eh, tapi kaget itu harus sama Tuhan," katanya kemudian.

Aku tersenyum mengejek. "Hayo, yang tadi tidak ke gereja."

"Berisik," kata Kak Natan, lalu masuk ke dalam rumah.

Aku sendiri di luar, masih berharap ada pesan Feli. Ketika ponselku berbunyi, aku tersenyum sebentar. Akan tetapi, pesan itu ternyata bukan dari Feli.

 

WhatsApp:

Kael Gundut

 

Soal tempat tinggal Sudah aman.

Serius?

Kalau kamu mau

Di Palopo ada tenteku.

Apa katanya?

Bapakku bilang

Kita bisa tinggal sama mereka.

Oh iya Nanti aku kabari

Siap.

 

Aku terdiam sebentar. Ada sesuatu yang kembali berputar di dalam kepalaku, tentang rumah orang, tentang sedikit trauma, dan mungkin pola pikir yang berbeda.

Aku mendengus beberapa kali, tak tahu harus mengungkapkannya dengan cara bagaimana pada ayah. Hingga ibu muncul dari dalam rumah.

"Masih main HP, Sen?" tanya ibu, langsung menyorot tajam pada ponsel dalam genggamanku.

"Iya, Bu. Masih ada pesan penting."

"Dari mata, kamu akan tertarik. Perlahan masuk ke dalam otakmu. Kemudian otakmu merasa nyaman tapi diam-diam membusuk. Terus pola pikirmu akan dikuasai. Mata rusak, otak membusuk, dan pikiranmu akan dikuasai," saran ibu. "Bahaya main HP berlebihan, Sen."

Aku meletakkan ponsel di atas meja. "Bagaimana kalau Ibu tidur, dan berdoa semoga semua hal buruk itu tidak terjadi pada Sendu?"

"Aduhhh, susah banget bicara sama kamu, Sen. Ya sudah, ibu tidur duluan," kata ibu, lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Barulah itu, kubuka buku harian dan mulai menulis.

 

Dalam selimut gelap malam yang tebal, aku menyebut nama-Mu. Dan di bawah sedikit cahaya bintang-bintang, aku selalu berusaha bersyukur pada-Mu. Atas damai yang Engkau berikan padaku.

Walau kalbu dilanda gundah dan lara, namun aku tahu, Engkau selalu menopangku di sepanjang jalan hidupku.

Teras Rumah, 23.37 WITA. 22 Juli 2023.

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. Toraja - Palopo

2. Rutinitas Bodoh yang Menyenangkan

3. Baju yang Sama