4. Domba yang Hilang
4
Domba yang Hilang
17 Juli 2023. Warung Pak Hendra.
Setelah
semuanya beres, kami memutuskan untuk balik ke Toraja. Tersisa urusan tempat
tinggal, tapi kata Kael, "Itu urusan belakangan."
Aku iyakan, demikian Rens.
Sore hari, pukul 16.23 WITA, aku sejenak singgah di
warung Pak Hendra, tempat biasaku membeli kebutuhan sehari-hari.
Kuingat lagi istri Pak Hendra. Beliau sempat bilang
begini padaku sewaktu aku berangkat ke Samarinda. "Di sana jangan nakal
seperti kakakmu, sekolah yang baik-baik."
Ya Tuhan, tempatkanlah Bu Hendra di sisi kananmu. Ia
adalah orang yang baik, selalu membantu beberapa keluarga di kampung, apalagi
aku.
"Doaku selalu menyertaimu, Bu Hendra."
Bu Hendra meninggal setahun yang lalu. Ia menderita
kanker payudara, dan penyakit itu pula yang membuatnya pergi. Sampai detik ini,
aku selalu mengingatnya setiap kali lewat di depan rumahnya.
Ia punya anak tunggal bernama Hendra. Sekarang sudah
duduk di bangku SD. Aku kurang tahu sekarang ia kelas berapa, hanya kalau
pulang kampung, aku sering melihatnya bermain di depan rumah tanpa mengganti
seragam sekolah.
Setelah mengamati Hendra sebentar, aku masuk ke dalam
warung yang luasnya tidak seberapa. Tak lama kemudian, Pak Hendra muncul dari
balik kamar. Di dalamnya memang ada kamar kecil untuk istirahat siang sambil
menunggu pembeli.
"Oh Sendu, kira siapa," kata Pak Hendra.
Aku tersenyum ramah. "Iya, Om."
"Baru balik dari Palopo?" tanya Pak Hendra.
"Iya, Om."
Kemudian aku meraih dedak dalam karung, seolah melihat
kualitasnya, seperti yang dilakukan orang tua kebanyakan saat membeli serbuk
padi itu.
"Sekarang harga dedak berapa, Om?"
"Mahal. Satu kilo, empat ribu," jelas Pak
Hendra.
Aku mengangguk-angguk. "Mahal betul."
Lalu aku bergeser sedikit, mencari sesuatu. Kulihat
biji jagung dalam karung. Persis sama seperti yang kulakukan sebelumnya.
"Kalau jagung biji berapa, Om?"
Pak Hendra menggelengkan kepalanya ke samping kiri.
"Owwh, kalau itu, sekarang masih di harga delapan ribu per kilo."
"Kalau jagung giling, Om?"
"Enam ribu."
Aku mengangguk-angguk lagi. Lalu aku melihat beras.
"Beras karung kecil itu berapa, Om?"
"Itu sembilan puluh."
"Yang besar?"
"Dua ratus delapan puluh."
Lagi-lagi aku mengangguk. Lalu tersenyum lebih lebar,
dan barulah kemudian menatap wajah Pak Hendra.
"Om, kan aku baru dari Palopo. Uangku tersisa
tujuh ribu. Hutang rokok bisa nggak, Om?"
Pak Hendra tertawa kecil, lalu menuju tempat ia
menaruh rokok. "Mau rokok apa, Sen?"
Aku mendekat. "Yang kretek, Om. Yang paling
murah."
Pak Hendra mengeluarkan sebungkus rokok. "Ini
sepuluh ribu, Sen. Kakakmu juga suka rokok itu," tambahnya.
Aku menjemput rokok itu lalu memasukkannya ke dalam
saku celana. "Oh ya?"
"Iya, tadi ia juga singgah beli rokok."
"Oh iya-iya, kalau begitu aku bayar separuh saja
ya, Om. Besok aku lunasin."
"Nggak usah, Sen."
"Nggak usah bayar, Om?"
"Besok aja sekalian bayarnya."
"Oh iya, Om. Ya sudah, aku lanjut ya, Om."
"Hati-hati, Sen."
Begitulah keluarga kecil Pak Hendra. Mereka baik.
Saking baiknya, aku pernah berhutang tujuh botol bensin. Sampai sekarang, masih
ada tiga botol yang belum kubayar. Kata Pak Hendra, nanti kubayar kalau aku
sudah bekerja.
Aku buru-buru pulang ketika mendengar dari mulut Pak
Hendra kalau kakakku juga pulang hari ini. Entah mengapa, mendengar kabarnya,
aku merasa sangat rindu.
( ͡° ͜ʖ ͡°)
Cinta Natan kepada UKIT.
Ketika
aku sampai di rumah, aku melihat kakakku tengah membaca. Begitu serius sampai
ia tidak sadar kalau aku sudah datang.
Aku masuk ke dalam rumah, sedikit gelap, tidak ada
seorang pun. Aku menggantung tas di dalam kamar, lalu keluar menemui kakakku.
"Kak, Ibu mana?" tanyaku.
Kakakku menoleh. Tatapannya tetap aku takuti walaupun
kami sering sekali bercanda dan tertawa bersama. Wajahnya tetap sangar ketika
tidak berekspresi.
"Masih di kebun, mungkin," jawabnya. Ia
meletakkan buku bacaannya di samping segelas kopi yang sudah setengah habis.
"Kapan kamu datang?"
"Barusan," jawabku, tersenyum.
Ia kemudian mengambil sebatang rokok lalu membakarnya.
Kebiasaannya tetap sama, ia selalu membakar rokok dengan cara memiringkan
kepala.
"Bagaimana kuliahnya, Kak?"
Ia menoleh sebentar, lalu diam dan kembali membuka
buku bacaannya.
Aku pikir hadirku hanya mengganggu. Maka aku pilih
masuk kembali ke dalam rumah, hendak membuat secangkir kopi sebagai teman
penghujung hari sekaligus pengusir kantuk.
Ketika aku berdiri, ia berkata. "Mau ke
mana?"
"Bikin kopi."
"Titip satu," katanya. Ia meneguk habis
kopinya dan memberikanku gelas yang tersisa ampas di dalamnya.
Aku meraih gelasnya. "Manis apa pahit, Kak?"
Ia memperbaiki posisi duduk, lalu menatapku serius.
"Menurutmu, sayur pepaya itu pahit atau manis?"
"Pahit, Kak."
"Ya sudah, segelas kopi manis."
Aku tertawa kecil, demikian kakakku. Kemudian aku
mengangkat kaki menuju dapur.
Kakakku yang satu ini memang begitu. Suka bercanda,
bahkan beberapa temannya dan temanku menganggapnya gila. Ia bernama Natan,
mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Toraja. Pada 2016 yang lalu, ia
mencintai kampusnya. Saking cintanya, sampai sekarang ia belum diwisuda.
Satu-satunya hal yang membedakan aku dengannya adalah
soal rutinitas. Ia kadang produktif, kadang tidak. Tapi kalau boleh jujur, ia
paling malas di antara semua saudaraku.
Aku ingat sewaktu ia SMK, rantai motornya rusak, lalu
ia meninggalkan motornya di samping jalan. Seperti sebuah sampah, seperti
barang yang bernilai murah. Dan parahnya, ia membiarkannya begitu kurang lebih
satu bulan di bahu jalan dengan satu alasan konyol: "Rantainya lagi
ngambek."
Otak Kak Natan memang sedikit tergeser, tapi bukan
berarti ia bodoh. Kak Natan hanya menjadi manusia yang santainya melebihi
rata-rata.
( ͡° ͜ʖ ͡°)
Aku Adalah
Laki-laki.
Dua
gelas kopi telah siap di depanku. Aku membawanya ke teras rumah, namun
langkahku tertahan di ambang pintu. Aku masuk kembali ke dalam rumah dan
mengambil sebuah buku yang kubeli di Gramedia Samarinda, bukunya Mark Manson.
Aku pikir itu cocok untuk Kak Natan.
Sesudah itu, kembali ke teras. Di sana, Kak Natan baru
saja pulang dari WC. Ia langsung membuka bukunya dan lanjut membaca.
"Baca apa, Kak?"
"Ssst, Firdaus sedang mengintip sesuatu,"
kata Kak Natan.
Aku pun diam, sambil menerka-nerka bahwa buku yang
dibaca Kak Natan adalah novel.
Diam-diam aku mencoba membaca judulnya, tapi ia
menutup bukunya lalu menatapku. "Lihat apa?"
Aku menarik kepala. "Judul bukunya, Kak."
"Kamu laki kan?"
"Iya."
"Kamu harus baca ini."
Aku menggeleng. "Ahk, nggak ah. Aku bosan
filsafat, Kak. Susah."
"Tapi ini bukan filsafat."
"Terus?"
"Perempuan di Titik Nol."
"Jadi soal perempuan begitu ya, Kak."
"Baca aja."
Kak Natan memberikan buku itu. Aku membuka halaman
pertama. Belum sempat kubaca satu paragraf, Kak Natan menarik buku yang kubawa
dari sampingku.
"Ini buku apa?"
"Itu pengembangan diri kayaknya, Kak."
"Kok kayaknya."
"Baca aja, Kak."
Kak Natan tersenyum, mungkin ia menyadari kalau aku
sedang membalas satu sama lain soal isi buku masing-masing.
Kak Natan tidak lanjut membaca. Ia duduk menghadapku
sambil membakar rokoknya.
"Bagaimana soal kampusmu?" tanyanya
kemudian.
Aku mendongak dan menutup buku. Percakapan kali ini
terasa lebih serius.
"Beres, Kak. Sisa tempat tinggal," jawabku.
Kak Natan mengangguk-angguk. "Kalau kuliah,
jangan kayak aku."
Aku diam, menunggu apa yang akan disampaikannya
selanjutnya.
"Kalau ada tugas, jangan justru minum-minum.
Kalau orang kuliah di kelas, jangan kuliah di gunung. Kalau orang masuk pukul
delapan, jangan berangkat pukul sepuluh."
"Sebisa mungkin, aku tidak akan lebih bodoh dari
Kakak," kataku.
"Kalau boleh, terus belajar. Jangan ada masalah
sedikit, lalu berhenti."
Aku diam lagi. Kak Natan terus menjelaskan.
"Soal cinta, jangan bantah. Justru itu yang
membuatmu dewasa. Tapi jangan pernah menyentuh wanita sebelum kamu mengingat
Ibu."
Aku mengangguk paham.
"Minum boleh, itu bonus. Hanya jangan minum kalau
hanya untuk merasa senang, untuk keren-kerenan. Orang mabuk sama sekali nggak
keren. Justru kamu akan lebih keren kalau kamu nggak minum."
Aku mengangkat kedua tangan. "Apa itu nggak
terlalu suci buat seorang seperti kita, Kak?"
"Justru karena kamu merasa bukan orang suci, maka
kamu akan berusaha untuk tidak melakukannya."
Aku meneguk segelas kopi. "Okelah kalau begitu,
Kak."
Akhirnya kami diam satu sama lain. Pesan Kak Natan
langsung terpaku di dalam kepalaku. Tak mungkin aku tidak menulisnya. Maka aku
masuk ke dalam rumah dan menulisnya sebentar.
Kamu,
kakakku. Sejauh mana kakimu melangkah, maka sejauh itu yang bisa kupetik.
Semoga aku bisa melebihi kepintaranmu dan semoga aku lebih kurang dalam
kebodohanmu.
Tau-tau, 17 Juli 2023.
Sudah itu, aku balik kembali ke teras rumah.
Tak lama kemudian, aku ingat sesuatu. "Kak,
bagaimana soal OMK?"
"Ya begitu, susah menyatukan pemikiran anak-anak
dengan orang seperti kita. Apalagi yang umurnya tiga belas tahun," jawab
Kak Natan.
Aku diam sebentar.
OMK adalah singkatan dari Orang Muda Katolik. Dulu,
sebelum aku berangkat ke Samarinda, diam-diam aku titipkan OMK pada Kak Natan
sampai ia terpilih sebagai ketuanya.
"Maklum, Kak. Toh kita nggak bisa memaksa mereka
berpikir seperti kita. Lagian, mereka mungkin belum sejauh kita memahami
organisasi," jelasku.
Kak Natan mengangguk setuju. "Nah, hanya itu
masalahnya. Selebihnya, mereka luar biasa. Aktif dan saling bekerja sama."
Aku tersenyum kecil. Tidak sia-sia kutitipkan OMK pada
domba yang hilang bernama Natan ini.
( ͡° ͜ʖ ͡°)
Penolakan Ketiga.
Malamnya,
ketika aku tidak bisa tidur di dalam kamar, aku mulai curiga kalau ada yang
tidak beres dengan tidurku. Pukul 01.29 WITA. Aku mengambil ponsel, membuka
email, dan mencari-cari sebuah pesan. Namun pesan yang kuharapkan tidak tertemukan.
Karena sudah bosan menunggu, aku ingin mengirim pesan
untuk ketiga kalinya kepada salah satu penerbit buku. Namun rasanya tidak sopan
kalau kukirim semalam itu. Maka aku memutuskan menundanya sampai pagi.
Aku memang sudah dua kali ditolak oleh penerbit. Dan
naskah terakhirku mungkin saja bernasib sama. Aku sudah hampir tidak punya
harapan lagi setelah menghitung berapa lama sudah kukirimkan naskahku.
Aku membuka email dan melihat kapan aku mengirimnya.
Tertera di sana: 09 Desember 2022. Sudah sekitar tujuh bulan lebih.
Aku mendengus. Mungkin naskah yang ketiga bernasib
sama dengan sebelumnya.
Cara satu-satunya untuk lari dari kenyataan adalah
tidur. Maka dengan sedikit paksaan, aku memilih untuk tidur. Tak peduli sebasah
apa bantalku malam itu.
Komentar
Posting Komentar